
Usai perayaan Misa Kamis Putih, tri hari suci berlanjut pada Ibadat Jumat Agung. Pada hari Jumat Agung ini, suasana ibadat hening tanpa iringan musik. Umat diajak untuk merenungi passio berdasarkan Injil Yohanes. Hal ini menjadi ciri khas Jumat Agung setiap tahunnya, yakni bacaan injil mengenai kisah sengsara dan kematian Tuhan Yesus dilantunkan oleh Romo beserta kedua petugas. Lalu apa saja rangkaian kejadian yang dialami oleh Tuhan Yesus beserta tiga murid-Nya pada hari Jumat Agung ini? Mari kita bahas satu per satu dengan sumber langsung dari Kitab Suci.
Pembaca pasti familiar dengan kelanjutan kisah perjamuan terakhir Tuhan Yesus beserta dua belas murid-Nya adalah Yesus pergi berdoa ke Bukit Zaitun atau sering juga disebut Taman Getsemani. Penulis mengutip dari Matius 26: 36-46, Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa." Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku." Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!" Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga. Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.". Penggalan ayat – ayat ini meceritakan tentang pengalaman Tuhan Yesus, ketika Dia berdoa dalam kesedihan dan ketakutan menjelang penangkapan dan penyaliban-Nya. Yesus seratus persen adalah manusia, namun juga seratus persen adalah Allah. Dalam situasi ini, sisi kemanusiannya muncul. Meskipun Dia sudah tahu karya keselamatan Allah dan dengan rela mengorbankan diriNya untuk menebus dosa – dosa umat manusia, Dia bisa merasakan ketakutan yang luar biasa. Bahkan dalam Lukas 22: 43-44, tertulis, Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. Dalam istilah medis hal ini dikenal dengan “hematidrosis” yaitu kondisi langka di mana seseorang berkeringat darah, bukan keringat biasa. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah kapiler yang terletak di sekitar kelenjar keringat pecah akibat stres fisik atau emosional yang ekstrem. Ini membuktikan bahwa Yesus pun seperti manusia pada umumnya, merasakan kecemasan dan tekanan yang begitu berat karena tahu bahwa Dia harus sangat menderita dan disalibkan supaya tergenapilah nubuat para nabi.
Berikutnya yang terjadi adalah realisasi pengkhianatan Yudas Iskariot pada Yesus, seperti tertulis dalam Matius 26: 14-16, Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata:"Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. Jadi sehari sebelumnya, Yudas Iskariot sudah pergi menghadap Sanhedrin (mahkamah agama tertinggi dalam Yahudi Kuno) untuk menyerahkan Yesus. Kemudian pada dini hari inilah, saat penangkapan Yesus pun terjadi. Dalam Matius 26: 47-50 tertulis, Waktu Yesus masih berbicara datanglah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan besar orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: "Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia." Dan segera ia maju mendapatkan Yesus dan berkata: "Salam Rabi," lalu mencium Dia. Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Hai teman, untuk itukah engkau datang?" Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya. Penggalan ayat – ayat ini menceritakan adegan pengkhianatan dan penangkapan Yesus di Taman Getsemani. Yudas Iskariot, salah satu murid Yesus, mengkhianatiNya dan menyerahkanNya kepada pasukan yang dikirim oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Secara keseluruhan, bagian ini menunjukkan bagaimana Yesus menerima pengkhianatan dan penangkapanNya dengan sukarela, sebagai bagian dari rencana keselamatan yang lebih besar. Yesus tidak melawan atau mencoba menghindari penangkapan, menunjukkan ketaatanNya kepada Bapa. Yudas Iskariot, sebaliknya, bertindak sebagai seorang pengkhianat yang dikendalikan oleh tujuan yang berbeda.
Selanjutnya yang terjadi adalah reaksi emosional salah satu murid Yesus, yaitu Petrus yang langsung menyerang Malkhus, salah satu anggota pasukan imam agung. Tertulis dalam Matius 26:51-56, Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Maka kata Yesus kepadanya: "Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?" Pada saat itu Yesus berkata kepada orang banyak: "Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi." Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. Tindakan kekerasan yang dilakukan Petrus terhadap Malkhus bertentangan dengan ajaran Yesus mengenai kasih dan perdamaian. Lebih dari itu, Yesus menunjukkan kedamaian dan ketegasan dalam menghadapi penangkapan. Ia memilih untuk tidak menggunakan kekerasan atau melarikan diri, tetapi memilih untuk mengikuti rencana keselamatan Allah yang jauh lebih besar. Ayat ini juga menekankan bahwa semua kejadian yang terjadi, termasuk tindakan pengikut Yesus dan penangkapan Yesus, sudah sesuai dengan yang ditulis dalam kitab suci. Ini menegaskan bahwa Yesus tidak hanya hadir di dunia untuk menjalani kehidupan yang biasa, tetapi juga untuk memenuhi nubuat-nubuat tentang diriNya. Murid-murid yang takut meninggalkan Yesus juga merupakan bagian dari rencana Tuhan, meskipun ini merupakan kegagalan bagi mereka secara pribadi.
Kisah ini berlanjut dengan Yesus dibawa oleh pasukan untuk menghadap Hanas (mantan Imam Besar), mertua dari Kayafas yang saat itu menjabat sebagai Imam Besar. Kemudian, ke rumah Kayafas untuk pengadilan lebih lanjut. Secara garis besar, Yesus diinterogasi oleh imam – imam dan tua – tua Bangsa Yahudi. Seperti diceritakan dalam Yohanes 18: 19-24, Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya. Jawab Yesus kepadanya: "Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan." Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: "Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?" Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?" Maka Hanas mengirim Dia terbelenggu kepada Kayafas, Imam Besar itu. Secara keseluruhan, penggalan ayat – ayat ini menggambarkan bagaimana Yesus menghadapi pertanyaan dan penentangan terhadap kebenaran yang Ia bawa. Ia tetap setia pada kebenaran-Nya, meskipun menghadapi perlakuan yang tidak adil.
Sedangkan dalam Markus 14: 60-64 tertulis, Maka Imam Besar bangkit berdiri di tengah-tengah sidang dan bertanya kepada Yesus, katanya: "Tidakkah Engkau memberi jawab atas tuduhan-tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?" Tetapi Ia tetap diam dan tidak menjawab apa-apa. Imam Besar itu bertanya kepada-Nya sekali lagi, katanya: "Apakah Engkau Mesias, Anak dari Yang Terpuji?" Jawab Yesus: "Akulah Dia, dan kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di tengah-tengah awan-awan di langit.” Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Untuk apa kita perlu saksi lagi? Kamu sudah mendengar hujat-Nya terhadap Allah. Bagaimana pendapat kamu?" Lalu dengan suara bulat mereka memutuskan, bahwa Dia harus dihukum mati. Penggalan ayat – ayat ini menggambarkan tentang bagaimana Yesus tetap diam saat tuduhan diajukan, dan ketika ditanya apakah Ia adalah Kristus, Anak Allah, Ia mengakui bahwa Ia adalah Dia. Pengakuan Yesus ini memicu reaksi kuat sehingga Imam Besar merobek pakaiannya dan menyatakan bahwa Yesus telah menghujat Allah, lalu sidang memutuskan hukuman mati bagi Yesus.
Di sisi lain, Petrus pada akhirnya menyangkal Yesus seperti yang dikatakan oleh Yesus sendiri saat malam perjamuan terakhir. Penyangkalan ini tertulis dalam Yohanes 18: 25-27, Simon Petrus masih berdiri berdiang. Kata orang-orang di situ kepadanya: "Bukankah engkau juga seorang murid-Nya?" Ia menyangkalnya, katanya: "Bukan." Kata seorang hamba Imam Besar, seorang keluarga dari hamba yang telinganya dipotong Petrus: "Bukankah engkau kulihat di taman itu bersama-sama dengan Dia?" Maka Petrus menyangkalnya pula dan ketika itu berkokoklah ayam. Hal ini menggambarkan kegelisahan Petrus, penyangkalan -penyangkalannya, dan konsekuensi dari pilihan-pilihannya. Ayat - ayat ini memberikan pelajaran tentang pentingnya keberanian dan kesetiaan dalam menghadapi tekanan, serta konsekuensi dari penyangkalan terhadap iman.
Seperti Petrus yang telah berdosa karena menyangkal Yesus, Yudas Iskariot pun merasakan penyesalan yang sangat mendalam karena telah menyerahkan gurunya yang tidak bersalah untuk diadili oleh imam – imam Bangsa Yahudi. Diceritakan dalam Matius 27: 3-5, Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri! "Maka iapun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. Namun, penyesalan Yudas Iskariot tidak murni dan tidak mengarah pada pertobatan. Yudas Iskariot bunuh diri karena merasa sangat berdosa. Kisah Yudas Iskariot juga memberikan kontras dengan Petrus, yang juga menyesal telah mengingkari Yesus, tetapi kemudian dipulihkan oleh Tuhan dan kembali ke pelayanan. Sedangkan Yudas Iskariot malah putus asa dan memilih jalan yang destruktif. Pelajaran untuk kita semua bahwa Tuhan pasti mau mengampuni asalkan kita memiliki niat untuk menyesali perbuatan dosa, bertobat dan kembali pada jalan Tuhan.