
Selain kisah penyaliban dalam Injil Yohanes, ada juga penggalan ayat dalam injil Matius 27: 32 dicatat seperti ini, Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. Ayat ini mencatat bahwa seorang pria bernama Simon dari Kirene dipaksa oleh para prajurit Romawi untuk membantu Yesus memikul salib. Hal ini menunjukkan betapa berat beban salib tersebut dan juga menunjukkan bahwa Yesus mengalami penderitaan yang luar biasa. Hal ini juga menunjukkan betapa besar kasih Tuhan Yesus bagi umat manusia, yaitu pengorbanan diriNya sendiri untuk disalibkan guna menebus dosa – dosa umat manusia.
Kemudian, bagian paling penting dari karya keselamatan Allah ini adalah tentang bagaimana Yesus Kristus yang menderita secara fisik juga menderita secara spiritual karena ejekan dan penghinaan saat tergantung di kayu salib, seperti tercatat dalam injil Matius 27: 39-44, Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!" Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah." Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga. Meskipun dihujat dan disalibkan, Yesus terus menaruh harapan pada Allah. Ini mencontohkan iman yang kuat dan percaya pada rencana Allah, bahkan di tengah penderitaan. Peristiwa ini mengajarkan kita tentang penderitaan dan pengorbanan yang mungkin harus dialami oleh pengikut Kristus. Penderitaan ini tidak selalu menghalangi, tetapi dapat menjadi bagian dari rencana Allah yang lebih besar.
Sesudah Yesus berada di kayu salib, Dia berkata pada murid-Nya, seperti tertulis dalam Yohanes 19: 25-27, Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya. Ayat – ayat ini menunjukkan kasih dan perhatian-Nya yang mendalam kepada ibu-Nya, bahkan di tengah penderitaan-Nya yang berat. Yesus menyerahkan ibu-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya, menunjukkan bahwa ia mempercayakan ibu-Nya untuk dirawat dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Interpretasi lain dari ayat ini adalah bahwa begitu besar kasih Tuhan Yesus, maka Dia juga mengaruniakan Bunda Maria untuk menjadi ibu rohani bagi orang – orang yang percaya padaNya.
Berikutnya adalah momen kegelapan yang terjadi saat Yesus disalibkan, diikuti oleh gempa bumi, dan pembukaan kuburan yang tercatat dalam Matius 27: 45-52, Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: "Ia memanggil Elia." Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum. Tetapi orang-orang lain berkata: "Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia." Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit. Ayat-ayat ini menandai titik puncak penderitaan Kristus, dengan kegelapan yang menandakan murka Allah terhadap dosa dan juga kekosongan rohani yang dirasakan oleh dunia akibat dosa manusia. Gempa bumi mencerminkan kekuatan Allah yang luar biasa dan penghancuran kekuatan dosa dan kematian. Pembukaan kuburan juga dapat diartikan sebagai tanda kemenangan Kristus atas kematian dan jaminan kebangkitan bagi orang-orang yang percaya padaNya. Dampak fisik dari peristiwa tersebut begitu dahsyat hingga melampaui batas alamiah. Kematian Yesus adalah pengorbanan yang menyelamatkan dan juga peristiwa yang mengubah sejarah. Melalui kematian-Nya, Allah telah menyediakan jembatan untuk manusia kembali kepada-Nya.
Selain Injil Matius, peristiwa akhir dari kisah penyaliban Yesus juga dicatat dalam Yohanes 19: 28-30, Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia?supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci?:"Aku haus!" Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Pada bagian penggalan ayat – ayat ini menunjukkan bahwa pengorbanan Yesus di kayu salib telah selesai, dosa telah ditebus, dan keselamatan bagi manusia telah tersedia. Kematian Yesus di kayu salib adalah puncak dari pengorbanan-Nya dan merupakan bukti kasih Allah yang luar biasa.
Bagian akhir dari kematian Tuhan Yesus dicatat dalam Yohanes 19: 31-37, Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib sebab Sabat itu adalah hari yang besar, maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: "Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan." Dan ada pula nas yang mengatakan: "Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam.". Ketidakpatahan tulang Yesus menggenapi nubuat dalam Mazmur 34:20, memperlihatkan kesempurnaan korban Yesus sebagai Anak Domba Paskah. Prajurit yang melihat Yesus sudah mati menusuk lambung-Nya dengan tombak untuk memastikan kematian-Nya, dan dari situ keluar darah dan air, maka tergenapilah juga nubuat dalam Zakaria 12: 10. Air melambangkan baptisan, yang menandai awal pelayanan Yesus dan juga simbol kehidupan yang memurnikan dan memberikan kehidupan baru. Darah, di sisi lain, mewakili pengorbanan Yesus di salib, yang menghapus dosa dan memungkinkan keselamatan bagi umat manusia.
Bagian paling akhir dari kisah sengsara dan wafat Tuhan Yesus adalah proses penurunan Yesus dari kayu salib serta penguburan sesuai tradisi Yahudi yang dicatat dalam Yohanes 19: 38-42, Sesudah itu Yusuf dari Arimatea, ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengapaninya dengan kain lenan dan membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat. Dekat tempat di mana Yesus disalibkan ada suatu taman dan dalam taman itu ada suatu kubur baru yang di dalamnya belum pernah dimakamkan seseorang. Karena hari itu hari persiapan orang Yahudi, sedang kubur itu tidak jauh letaknya, maka mereka meletakkan mayat Yesus ke situ. Mereka terburu-buru melakukan penguburan karena hari itu adalah hari persiapan bagi orang Yahudi menjelang Sabat, dan mereka tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan apa pun pada hari itu. Ayat-ayat ini menunjukkan rasa hormat dan perhatian Yusuf dan Nikodemus terhadap Yesus, bahkan setelah kematian-Nya. Meski mereka merahasiakan imannya terhadap Yesus, mereka berani meminta kepada Pilatus untuk menurunkan dan menguburkan tubuhNya. Kubur baru yang digunakan untuk menguburkan Yesus melambangkan awal yang baru dan harapan bagi para pengikut-Nya, bahwa Yesus akan bangkit kembali.
Kisah Sengsara dan Wafat Tuhan ini sangat panjang, penulis menyarankan para pembaca sekalian untuk membaca empat versi dari Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, karena keempat Injil itu merupakan satu kesatuan penting yang tidak terpisahkan. Beberapa ayat yang dikutip disini adalah poin yang menonjol dalam bagian kisah ini. Selain membaca, ada baiknya kita juga merenungkannya. Jadi bukalah Kitab Suci mu dan mulailah petualanganmu bersama Tuhan, mintalah bimbinganNya agar roh kudus menerangi akal budi dan batinmu. Karena karya keselamatan Allah yang satu ini adalah kisah yang begitu besar sepanjang sejarah umat manusia.